Tesia Aisyaheta, Berhaji di Usia 13 Tahun, Bertekad Menjadi Dokter Spesialis

Makkah, Tanah Suci yang penuh berkah, menjadi saksi perjalanan spiritual luar biasa seorang gadis muda bernama Tesia Aisyaheta. Di tengah lautan jemaah yang memenuhi tempat ibadah pada musim haji 1447 Hijriah, Tesia yang baru berusia 13 tahun telah melaksanakan ibadah haji, sebuah pencapaian yang sangat mengesankan untuk usianya. Dalam dunia di mana banyak anak seusianya masih terjebak dalam rutinitas sekolah dan permainan, Tesia telah memilih untuk menjalani salah satu rukun Islam yang paling suci: haji. Kelahiran Palembang pada 4 April 2013, membawa Tesia dalam sebuah perjalanan spiritual bersama enam anggota keluarganya, termasuk nenek tercintanya, yang selalu setia mendampinginya.
Perjalanan Spiritual yang Mengesankan
Tesia mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji tamattu’ dengan penuh kesungguhan. Perjalanan dimulai dengan umrah, dilanjutkan ke prosesi puncak haji yang mencakup Mina, Arafah, Muzdalifah, dan berakhir kembali di Mina untuk melontar jumrah. Meski usianya terbilang sangat muda, Tesia mampu menjalani semua tahapan ibadah ini dengan baik.
Namun, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Cuaca yang terik, kerumunan jemaah yang padat, dan rangkaian ibadah yang berlangsung selama beberapa hari menjadi pengalaman baru yang menantang bagi Tesia. Meskipun begitu, ia berhasil menyelesaikan seluruh serangkaian ibadah, termasuk thawaf ifadah dan sa’i, dengan penuh semangat.
Refleksi di Madinah
Setelah menyelesaikan prosesi haji, Tesia kini berada di Madinah, kota bersejarah yang menjadi tempat peristirahatan Nabi Muhammad SAW. Di sini, ia menemukan kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan merenungkan makna mendalam dari perjalanan spiritual yang baru saja dilaluinya.
“Haji mabrur harus berhubungan dengan kebaikan dan membawa manfaat bagi orang lain setelah kembali ke tanah air,” jelas Tesia dalam sebuah wawancara dengan tim media di Madinah.
Makna Haji bagi Tesia
Lebih dari sekadar perjalanan religius, haji bagi Tesia adalah pelajaran berharga tentang kesabaran, kedisiplinan, dan arti penting kebersamaan. Ia berharap agar keluarganya, teman-teman, dan sahabatnya juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk memenuhi panggilan Allah ke Baitullah di masa mendatang.
Di luar kesibukannya dalam ibadah, Tesia adalah seorang siswi kelas VII di SMP IT Royal Islamic School. Ia memiliki minat dalam menggambar dan bercita-cita menjadi dokter spesialis. Prestasi akademiknya pun sangat membanggakan. Pada tahun 2025, ia meraih medali perunggu dalam Asian Science, Maths, and English Olympiad di bidang Bahasa Inggris yang diadakan di Bali. Setahun setelahnya, ia berhasil meraih posisi kedua dalam Olimpiade Bahasa Inggris FABI XV tingkat Sumatera Selatan dan diharapkan mewakili daerahnya dalam kompetisi tingkat nasional di Malang pada bulan Juli mendatang.
Dukungan Keluarga yang Kuat
Ibunya, dr. Hj. Ertikawina, merupakan sosok yang sangat mendukung dalam perjalanan pendidikan dan pembentukan karakter Tesia. Dukungan keluarga yang kokoh menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan Tesia untuk menunaikan ibadah haji di usia yang masih sangat muda.
Panggilan ke Tanah Suci Tanpa Batas Usia
Kisah Tesia mengingatkan kita bahwa panggilan untuk berhaji tidak mengenal batas usia. Di tengah perjalanan hidup yang masih panjang, ia telah memulai langkah dengan pengalaman spiritual yang sangat berarti, sesuatu yang tidak banyak dimiliki oleh anak-anak seusianya.
Setelah kembali dari Tanah Suci, Tesia berkomitmen untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-citanya sebagai dokter spesialis. Namun, satu hal yang ingin ia jaga adalah pesan berharga dari perjalanan haji: ibadah yang baik harus menghasilkan kebaikan bagi sesama.
Baginya, haji mabrur bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari langkah baru yang penuh harapan dan kebaikan. Dengan tekad yang kuat, Tesia Aisyaheta siap menjalani masa depannya, membagikan kebaikan kepada sesama, dan mewujudkan impiannya menjadi dokter spesialis.