Anak PerusahaanBerita

Pertamina Hulu Energi Percepat Pengembangan Lapangan Migas Demi Ketahanan Energi Nasional

Dalam menghadapi tantangan ketahanan energi global yang semakin kompleks, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menunjukkan komitmen yang kuat untuk mempercepat pengembangan lapangan minyak dan gas bumi (migas). Di tengah dinamika geopolitik yang bergejolak dan fluktuasi harga minyak, PHE bertekad untuk memastikan keberlanjutan pasokan energi bagi masyarakat Indonesia.

Komitmen PHE di Panggung Internasional

Pernyataan komitmen ini disampaikan oleh Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, Mery Luciawaty, dalam forum diskusi internasional yang berlangsung di Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 1 April 2026. Forum tersebut mengangkat tema “Accelerating Development for Energy Security: Fast-Tracking Field Strategies in a Volatile World”, yang mencerminkan urgensi pengembangan strategi lapangan migas di zaman yang penuh ketidakpastian ini.

Pentingnya Percepatan Pengembangan Lapangan Migas

Dalam pemaparannya, Mery menegaskan bahwa percepatan dalam pengembangan lapangan migas merupakan langkah krusial untuk menjaga keberlanjutan produksi migas di Indonesia. Hal ini juga menjadi jawaban atas meningkatnya kebutuhan energi domestik yang terus berkembang.

“Dalam situasi global yang tidak menentu, mempercepat pengembangan lapangan migas adalah langkah strategis untuk memastikan ketahanan energi nasional serta menjaga pasokan energi yang stabil bagi masyarakat dan sektor industri,” ungkap Mery.

Peran Strategis PHE dalam Produksi Energi Nasional

PHE, sebagai Subholding Upstream Pertamina, saat ini bertanggung jawab atas pengelolaan 20 cekungan migas dengan total produksi yang mencapai sekitar 1 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD). Kontribusi PHE terhadap produksi migas nasional sangat signifikan, yakni sekitar 65% untuk minyak dan 36% untuk gas dari total wilayah kerja migas domestik yang ada.

Tantangan yang Dihadapi PHE

Di balik pencapaian tersebut, PHE menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangan lapangan. Salah satu tantangan utama adalah tingkat penurunan produksi (decline rate) yang cukup signifikan, dengan angka 24% untuk minyak dan 21% untuk gas. Selain itu, integritas aset menjadi tantangan besar karena 65% dari aset PHE memiliki usia lebih dari 30 tahun.

Lebih lanjut, biaya operasi PHE tergolong tinggi, terutama karena sebagian besar produksi sudah berada pada tahap akhir pengembangan (late stage). Untuk meningkatkan produksi, PHE menerapkan teknologi enhanced oil recovery (EOR) seperti steamflood yang memerlukan dukungan listrik yang andal, serta aktivitas pemulihan minyak kimia yang lebih mahal dibandingkan metode pengeboran konvensional. Tantangan lain yang dihadapi adalah komersialisasi lapangan gas yang terisolasi di daerah terpencil, yang memerlukan inovasi teknologi seperti Gas to Liquids (GTL) atau mini LNG untuk meningkatkan keekonomian aset tersebut.

Strategi PHE untuk Meningkatkan Produksi

Untuk mendukung peningkatan produksi, PHE menerapkan berbagai strategi utama, termasuk percepatan pematangan proyek. Salah satu contohnya adalah dengan melibatkan tim pengembangan dalam tahap awal rencana eksplorasi, sehingga perencanaan pengembangan dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien.

Optimalisasi pengembangan lapangan marginal juga menjadi fokus dengan pendekatan terintegrasi guna mencapai efisiensi biaya. PHE berkomitmen untuk mengeksplorasi semua potensi yang ada demi meningkatkan produksi migas nasional.

Inovasi Teknologi untuk Masa Depan

PHE senantiasa mendorong penerapan inovasi teknologi untuk memperkuat pengembangan lapangan deepwater, migas nonkonvensional, serta penerapan metode pemulihan minyak yang lebih efisien melalui teknologi chemical enhanced oil recovery (CEOR). Selain itu, pengembangan ekosistem carbon capture, utilization, and storage (CCUS) juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.

Ekspansi Global PHE

Di tingkat internasional, PHE memperkuat portofolio aset dengan mengandalkan anak usaha PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP), yang mengelola aset di negara-negara seperti Aljazair, Irak, dan Malaysia. PHE juga memiliki kepemilikan saham mayoritas di Maurel & Prom, yang beroperasi di berbagai wilayah seperti Afrika, Amerika, dan Eropa. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan kinerja operasional PHE di kancah global.

Optimisme Menuju Swasembada Energi

Melalui serangkaian inisiatif tersebut, PHE optimistis dapat terus meningkatkan kinerja operasionalnya sekaligus mendukung pencapaian target swasembada energi nasional. Mery menegaskan, “Dengan penguatan kapabilitas organisasi, kemitraan strategis, serta dukungan kebijakan fiskal yang kompetitif, PHE berkomitmen untuk terus mengoptimalkan pengembangan migas nasional guna mendukung ketahanan energi Indonesia.”

Komitmen Terhadap Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

PHE juga berkomitmen untuk berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas dengan mengikuti prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Komitmen ini mencakup Zero Tolerance on Bribery, yang memastikan pencegahan terhadap praktik kecurangan serta menjamin perusahaan bebas dari penyuapan.

Salah satu langkah konkret dalam hal ini adalah implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang sudah terstandarisasi berdasarkan ISO 37001:2016. Ini menunjukkan bahwa PHE tidak hanya fokus pada aspek produksi, tetapi juga pada tanggung jawab etis dan keberlanjutan dalam setiap langkah operasionalnya.

Mendukung Ketahanan Energi Nasional

PHE berkomitmen untuk memainkan peran penting dalam mendukung ketahanan energi nasional. Dengan pengembangan berkelanjutan yang didukung oleh inovasi dan efisiensi, PHE berharap dapat memenuhi tuntutan energi yang terus meningkat serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam kesimpulannya, langkah-langkah strategis yang diambil oleh PHE menunjukkan bahwa perusahaan ini tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada keberlanjutan dan tanggung jawab sosial yang lebih luas. Dengan demikian, PHE berada pada jalur yang tepat untuk memastikan bahwa Indonesia dapat mencapai kemandirian energi di masa depan.

Related Articles

Back to top button